Human Capital: Tech for Productivity

New Normal Series:

Photo Source: tempo.co.id

PSBB akan segera berakhir, para pekerja akan segera kembali beraktivitas normal dengan tata cara normal baru. Berbagai strategi dengan protokol standar Anti Covid-19 atau biasa disebut sebagai “New Normal” mulai dipersiapkan. Kesiapan dari disiplin dan adaptasi para pekerja dibutuhkan untuk segera menyesuaikan diri dengan keadaan yang akan berbeada sebelum PSBB di berlakukan

Tempat kerja tidak akan seperti biasa lagi, proses sosialisasi dan kampanye di internal adalah suatu hal yang wajib dilakukan oleh manajemen secara tepat dan komprehensif agar tetap menjaga keselamatan dan kesehatan pegawai.


Hal ini juga telah dituangkan dalam surat edaran peraturan Menteri perindustrian no 4 tahun 2020 ” Pelaksanaan Operasional Pabrik Dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019″. dimana surat ini berdasarkan tentang peraturan WHO.

Pertama, bagi perusahan industri dan/atau perusahan kawasan industri:

  1. Melakukan screening awal kepada seluruh pekerja melalui pemeriksaan suhu tubuh. Jika ditemukan pekerja yang tidak sehat, dilarang mengikuti kegiatan perusahaan dan direkomendasikan untuk memeriksa diri.
  2. Memastikan pekerja yang tidak sehat dan memiliki riwayat perjalanan dari negara atau zona dengan transmisi lokal virus corona, melakukan isolasi diri selama 14 hari dan tidak masuk ke area pabrik.
  3. Memastikan area kerja memiliki sirkulasi udara yang baik dan memiliki fasilitas memadai untuk mencuci tangan.
  4. Memastikan ketersediaan sabun dan air mengalir untuk mencuci tangan atau pencuci tangan berbasis alkohol serta masker.
  5. Meningkatkan frekuensi pembersihan rutin di area yang umum digunakan. Melakukan pembatasan jumlah pekerja saat menggunakan fasilitas umum, seperti tempat ibadah, kantin, dan toilet.
  6. Menyediakan suplemen dan makanan bergizi untuk pekerja. Menyiapkan panduan bagi pekerja mulai dari pekerja keluar dari tempat tinggal sampai dengan kembali ke tempat tinggal dan turut mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat serta informasi tentang COVID-19 melalui media komunikasi internal.

Kedua, bagi pekerja:

  1. Jika selama di dalam area pabrik terdapat pekerja yang sakit, maka tidak melanjutkan kegiatan dan segera memeriksa diri ke faskes.
  2. Pekerja yang memiliki riwayat perjalanan dari negara ataudengan transmisi lokal virus corona dalam 14 hari terakhir wajib menginformasikan ke perusahaan.
  3. Memakai masker sejak keluar rumah dan memakai masker dan sarung tangan selama berada di area pabrik.
  4. Menjaga jarak minimal 1 meter (physical distancing) dan dilarang berkelompok pada saat jam istirahat. Seluruh pekerja harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  5. Dilarang berjabat tangan dengan sesama pekerja dan orang lain dan prtimbangkan untuk mengadopsi alternatif bentuk sapa lainya.

Lalu setelah protokol kesehatan ini diterapkan apakah cukup?

Dampak dari covid-19 tidak saja pada pada kesehatan, namun juga pada ekonomi. Seperti di lansir dari liputan6.com, Morgan Stanley (MS) kembali mengeluarkan riset terbaru mengenai perkembangan negara-negara di Asia dalam menghadapi pandemi Corona Covid-19. Dalam riset tersebut Indonesia masuk dalam kategori grup negara di Asia di luar Jepang yang mengalami pemulihan ekonomi tercepat kedua.

Dalam riset yang berjudul “Tracking Covid-19 and real time indicators” Morgan Stanley mengkategorikan empat grup negara di Asia yang tercepat mengalami pemulihan ekonomi, yakni:
Grup pertama, negara China, masuk ke dalam kategori negara yang pertama mengalami goncangan ekonomi dan yang akan menjadi negara yang pertama pulih. Negara ini diperkirakan akan kembali menuju tahap PDB pra-COVID-19 pada kuartal III 2020.

Selanjutnya, Grup kedua, ada Filipina, Indonesia dan India sebagai negara-negara yang mengalami pemulihan ekonomi setelah China, mengingat orientasi permintaan domestik dan struktural yang lebih kuat. dan Grup ketiga (Negara Korea Selatan dan Taiwan) dan keempat adalah negara (Thailand, Malaysia, Hong Kong dan Singapura)

Produktivitas pekerja Indonesia masih menjadi isu penting.

Data yang disampaikan bisa menjadi acuan kita harus selalu optimis dalam menghadapi tantangan kedepannya, namun kita tidak bisa terlena karena isu utama yang selalu berulang dari pekerja Indonesia adalah mengenai produktivitas.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/

Dilihat dari data di atas tahun 2019, produktivitas pekerja Indonesia berbanding terbalik dengan potensi pasar yang di milikinya. Hal ini diperburuk dengan situasi global post-covid-19.

Dampak dari pekerja yang tidak produktif ini, akan memberikan cost yang sangat besar bagi perusahaan. Berdasarkan riset internal yang dilakukan oleh tim Sonicboom, sebuah pabrik yang memiliki 200 karyawan (minimal) dengan gaji rata-rat UMP Rp. 4.500.000,- perbulan, jika satu jam saja mangkir atau tidak produktif, bisa menghabiskan sumber daya perusahaan sekitar 1 Milliar rupiah per tahun.

Oleh sebab itu, agar produktifivas tetap dikawal lebih baik dibutuhkan strategi dan cara baru. Disini teknologi bisa menjadi peran yang sangat penting untuk menyiasatinya; tetapi itu semua kembali lagi mengacu pada kesiapan sumber daya manusia kita: terutama tingkat kedisiplinan dan produktivitas.

Human Capital: Tech for Productivity

Untuk para pegawai kantoran atau White-Colar, melakukan aktifitas WFH ( (Work from Home) tidak akan terlalu sulit dan akan mudah sekali untuk di pantau, namun akan berbeda dengan mereka yang berada di area pabrik atau gudang, atau disebut Blue-Collar dimana mereka harus berada di tempat bekerja untuk menyelesaikan pekerjaaannya atau WFO (Work form Office) atau WOS (Work On Site). Teknologi berperan penting bagi manajemen perusahaan dalam memantau proses kerja dengan lamanya posisi mereka (dwelling time) semasa jam kerja dan bisa dibandingan dengan hasil kerja mereka.

Gunakan teknologi Sonic Sense IoT. Bagaimana cara kerjannya?

Selama ini setelah karyawan melakukan absen, lalu mereka akan langsung ruangan atau tempat kerja yang kemudian monitoring akan dilakukan menggunakan CCTV. Namun hal ini akan sangat sulit untuk mendapatkan rekaman data secara spesifik dan unik dikarenakan banyaknya halangan di CCTV sepearti blind spot dan real-time face recognition.

Dengan menggunakan teknologi Sonic Sense IoT, manajemen atau HRD bisa melakukan tracking posisi dari pekerja melalui peralatan yang di mereka gunakan seperti handphone atau Sonic Tag; atau bisa disebut Indoor Positioning system (IPS). Hal ini tidak dapat di lakukan oleh teknologi GPS seperti ilustrasi di bawah,.

Dan yang paling unik adalah kita bisa melihat waktu tunggu atau dwelling time sehingga ketika karywan melakukan hal-hal yang tidak produktif akan dapat di review berdasarkan hasil kerja baik itu secara kualitas maupun kuantitas.

Bukan hanya untuk tracking, namun juga bisa untuk Hyperlocal-Task Delivery.

Kesulitan yang sering ditemui dalam mengatur pekerja di sebuah pabrik adalah banyaknya komunikasi yang berjenjang, bukan komunikasi yang langsung direct berdasarkan posisi terdekat; misalnya seorang pegawai berada deket dengan area yang membutuhkan eksekusi segera dan bisa dilakukan oleh semua orang seperti mematikan tombol atau meletakan sesuatu pada tempatnya. Dengan menggunakan teknologi sensor Sonic Sense IoT, manajemen atau dapat mengirimkan pesan kepada pekerja di area tersebut langsung dengan presisi dan dapat diukur hasil kerjanya.

Model: Hyper-local Push Notification for Factory Worker

Banyak hal lain yang dapat dilakukan oleh Sonic Sense IoT, mulai dari Touch-less absensi di lokasi pabrik atau gudang hingga reporting yang komprehensif bagi manajemen dan HRD perusahaan. Kami optimis dengan menggunakan teknologi kami, produktifivas dari pekerja dapat meningkat dan mendatangkan manfaat bagi semua pihak.

Untuk detail informasi tentang layanan Sonic Sense IoT, silahkan menhubungi info@sonicboom.co.id .

Penulis

Edo Rinaldo
VP of Business Development of Sonicboom
Books Author and Marketing Enthusiast
edo@sonicboom.co.id

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *